Kisah ini tersusun dari kata-kata yang tak terencana. Hanya sekedar berbagi rasa kepada saudara di seluruh dunia. Bukan untuk kesombongan, apalagi takabur. Sekedar sharing untuk melahirkan hikmah bagi setiap jiwa. Mungkin ada peluang untuk membuka mata, melepas gembok telinga, dan melerai tali pengekang rasa.
Saya terlahir di kota Pahlawan di belahan bumi Timur pulau Jawa. Tepatnya Surabaya. Selama 10 tahun menikmati hari-hari yang menyenangkan bagi jiwa kanak-kanak. Bermain, belajar, dan mengaji. Hanya satu kenangan yang tertanam di hati, setiap waktu ashar tiba berangkat ke masjid depan rumah untuk shalat Ashar berjama’ah sekaligus belajar mengaji. Satu hal yang selalu terasa hingga sekarang : bahwa hidup berdekatan dengan masjid terasa sangat menyenangkan dan menyegarkan bagi jiwa kanak-kanak !
Ketika masa reformasi tahun 1998, peristiwa lengsernya mantan presiden Soeharto, saya pindah ke kota yang dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, dan kota gudeg; Yogyakarta. Melanjutkan jenjang belajar kelas 5 SD sampai SMP. Ketika lulus SMP, saya tertarik untuk meneruskan ke SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa). Karena sejak kecil saya sangat suka menggambar. Bahkan ketika duduk di bangku TK, saya jarang ikut belajar menulis atau membaca ketika ada pelajaran membaca dan menulis. Saya lebih senang menggambar dan coret-coret sendiri. Tapi saya juga senang mengikuti bu guru bernyanyi. Setiap hasil coret-coretan itu selalu saya pajang di dinding rumah, dan memandanginya dengan puas karena hasilnya memang lumayan bagus.
Tetapi ternyata atas perintah orang tua, saya malah masuk ke SMKI Surabaya (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) di sini adalah sekolah khusus untuk seni pertunjukan, yaitu seni gamelan, seni tari, seni teater, dan seni music. Maka mulai saat itu juga saya di didik untuk menjadi seorang penari. Sebuah hal yang tidak pernah terbayangkan, bahkan nama salah satu alat gamelan, Gong pun, waktu itu saya tidak mengenalnya.
Ketika baru memasuki kelas 1 di SMKI Surabaya, di sini saya kost, mulai belajar mengatur diri saya sendiri. Saat perkenalan di kelas, semua teman-teman baru bercerita bahwa mereka pernah mempelajari tari ini dan itu, pentas di sana dan di sini. Ada juga yang pernah menjadi juara dalam suatu perlombaan. Kecuali saya ! Maka ketika tiba giliran saya untuk memperkenalkan diri, saya berkata kepada guru di kelas: “Saya tidak tahu sedikitpun tentang tari, dan saya belum pernah menonton seni tari, satu kali pun. Saya juga tidak tahu apa saja nama alat-alat gamelan.” Sungguh lucu memang.
Seiring perjalanan waktu, yang sebelumnya masih sangat kaku menggerakkan tubuh, akhirnya di penghujung kelas 1 saya mulai terbiasa bahkan cenderung mudah untuk belajar menari. Saat kelas 2, saya mulai belajar cepat dalam mempelajari dan menguasai sebuah tarian. Bahkan tidak jarang teman-teman bertanya pada saya, minta diajari jika mereka kesulitan. Pertengahan semester kelas 2, saya terbilang lebih cepat daripada teman-teman sekelas dalam menyerap materi tari. Saya mulai mengikuti beberapa pentas seni tari. Bukan hanya daya serap yang lumayan, ternyata aspek ketubuhan saya pun lebih mudah dalam menari dibanding teman-teman sekelas. Bahkan tidak jarang guru saya jika mau ijin ada keperluan mewakilkan ke saya untuk menyampaikan materi gerak tari kepada teman-teman. Khususnya tari Surakarta. Beliau mengajarkan materi gerak berikutnya, 5-10 motif gerak dalam waktu tidak lebih dari 15 menit.
Di sekolah, kami tidak hanya belajar menari, tetapi ada juga pelajaran karawitan. Menabuh gamelan Surakarta, Banyuwangi, dan Bali. Meskipun berbeda, tapi memiliki prinsip yang sama pada alat gamelannya. Setiap pelajaran karawitan tiba, teman-teman selalu mendorong-dorong saya untuk bagian nabuh Bonang Saron atau Bonang Peking. Karena kedua alat itu yang dianggap teman-teman paling sulit. Padahal bagi saya keduanya lebih menyenangkan untuk dimainkan daripada alat lainnya, terasa menjenuhkan karena monoton.
Selain karawitan, kami juga belajar nembang jawa. Belajar nembang benar-benar dari nol. Di kelas hanya ada dua anak yang dianggap cukup bisa. Mereka adalah saya dan teman saya, Sekar.
Di penghujung semester akhir kelas 3 SMKI, saya diajak mengikuti ta’lim oleh seorang teman dari jurusan seni rupa yang satu kost-an dengan saya. Saya mulai aktif mengikuti ta’lim sepekan sekali. Saya mulai belajar mengenal lebih dekat agama sendiri melalui buku-buku dan majalah-majalah agama islam. Akhirnya menjelang kelulusan kelas 3, saya mulai belajar memakai kerudung dan baju muslimah. Masih Melekat dalam ingatan saya waktu itu, masa-masa pertama berhijab, dengan baju ala kadarnya pergi ke acara kegiatan keislaman di suatu tempat yang diikuti banyak orang, laki-laki dan perempuan. Saya mengenakan celana jeans biru, baju merah menyala, dan kerudung kuning menyala. Jadi silau jika memandangnya. Ketika berjalan, setiap mata tukang becak di pinggir jalan memandang aneh. Waktu tiba di tempat acara pun, jadi terasa aneh, karena semua serasi dengan pakaiannya kecuali saya. Lucu jika mengingatnya.
Saat ujuan karya tari kelompok untuk kelulusan, saya bersama teman-teman satu kelompok menciptakan karya tari berjudul Pelangi. Walaupun berkelompok, tetapi penilaian masing-masing berbeda, masing-masing menjalani saat tes wawancara yang berbeda, test pembuatan proposal tari, test pembuatan rancangan dekorasi pertunjukan, dan test tertulis. Diluar dugaan, saya mendapatkan nilai terbaik diantara teman-teman yang terdiri dari dua kelas. Saya pikir, saya justru mendapatkan nilai di bawah teman-teman. Karena saya melihat mereka juga pandai-pandai dan hasil karya tari mereka juga bagus. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.
Setelah lulus saya berniat berhenti menari karena saya ingin tetap berjilbab. Saya ingin melanjutkan kembali hobby lama saya, yaitu menggambar atau melukis. Saya memutuskan masuk ke Fakultas Seni Rupa di kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Tetapi layaknya orang-orang mukmin terdahulu, dan perjuangan generasi muslimah sebelumnya, selalu ada tantangan di balik niat baik. Tentangan, perlawanan, bahkan hujatan dari pihak lain, menolak syari’ah jilbab. Orang tua tetap menginginkan saya menjadi penari dan masuk jurusan seni tari. Saya sempat dikatakan gila, kena guna-guna, bahkan diusir dari rumah. Maka semua jawaban bermuara hanya pada Allah. Saya istikharah sampai 11 kali, dan mendapatkan jawaban yang sama: masuk jurusan seni tari!
Maka saya tetap menjadi seorang penari. Sembari tetap berusaha mempertahankan jilbab saya. Saya mulai belajar menciptakan karya tari yang berkonsep islam. Karya saya yang pertama berjudul Lentera, Rindu Rasul, Bening, dan kemudian Satu Bintang. Semua hal yang pernah saya pelajari ketika masih sekolah, saya manfaatkan untuk pembuatan karya tari saya berikutnya. Saya mencipta tembang shalawat untuk iringan karya saya, belajar mengatur bagaimana scenario music tari yang akan saya gunakan, termasuk menentukan alat-alatnya sendiri, saya juga belajar memadukan tearikal dan musikalisasi puisi islami ke dalam tarian.
Dalam perjalanan waktu, saya tidak hanya mempelajari seni tari saja, tapi juga bidang-bidang lain yang menarik perhatian saya. Pengobatan thibbun nabawi meliputi bekam/ al hijamah, kiropraksi, dan memahami obat-obatan herbal. Saya juga mempelajari ilmu sempoa dan jarimatika. Saya juga mempelajari metode bagaimana mengajarkan calistung pada anak-anak. Saya juga belajar menciptakan beberapa lagu untuk anak saya sendiri, lagu anak-anak, dan tembang jawa yang bersyair tentang islam. Meskipun belum pernah masuk dapur rekaman. Saya juga pernah menulis novel cinta sebanyak 150 halaman walaupun belum pernah diterbitkan. Saya juga belajar membuat antologi puisi saya sendiri. Semuanya masih saya simpan sampai sekarang. Untuk koleksi diri sendiri.
Setelah lulus dari bangku kuliah, saya masih meneruskan bidang profesi saya sebagai guru seni tari di beberapa sekolah. Saya juga mengajar privat sempoa, jarimatika, calistung, dan iqro’. Saya juga kadang menerima jasa pengobatan bekam/ al hijamah. Dan saya juga masih suka coret-coret sesuatu.
Selepas kuliah, saya mulai tertarik untuk mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha/ bisnis. Sampai sekarang saya masih suka mempelajari semua hal itu. Menurut seorang teman, saya termasuk orang yang multy talent. Mudah dan bisa mempelajari banyak hal.
“Sesungguhnya Allah tidak menciptakan manusia untuk sebuah kesia-siaan, kecuali manusia itu sendiri yang menyia-nyiakan dirinya. Segala sesuatunya mengandung hikmah dan pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan memiliki hati yang hidup.”
2 komentar:
itulah hidup... setiap kita telah memilki skenario masing2. Gud mbk, hoe hoe...
blog mbk cinta dah tak link kan ke blog ini, punya teman tapi saya yang ngelola :D
ok! makasih atas spiritnya. smg kelak kita bisa reuni kembali di surga....
Posting Komentar